Assalamu alaikum sobat semua! Apa kabar? harapannya hari ini sobat semua
semoga dalam kebaikan, besok dalam keberuntungan dan lusa dalam
kemenangan, Karena hari ini saya yakin anda tidak memasukkan sesuatu
yang haram ke dalam perut sobat sekalian, sehingga mulut,lidah,
tenggorokan, usus dan semua anggota sistem pencernaan bersyukur kepada
Allah telah menitipkan mereka kepada orang yang benar, yaitu anda semua
yang lagi membaca artikel sederhana ini.
Kali ini saya ingin posting tentang sesuatu yang mudah- mudahan jadi
motivasi spritual buat kita semua yaitu tentang OPTIMIS DENGAN IMAN.
Baik, langsung saja.....
Alkisah, Ibrahim bin Adham adalah anak raja,dia adalah seorang shufi .
Suatu ketika Ibrahim bertemu dengan seseorang yang sedang
galau(gelisah),Ia pun menyampaikan tiga pertanyaan dengan maksud
menghibur dan membantu orang yang sedang galau itu untuk keluar dari
kegalauan dan keputusasaan yang sedang menghimpit dan menekan jiwanya.
Ibrahim bertanya,”Apakah sesuatu hal yang tidak dikehendaki Allah SWT
bisa terjadi di alam ini?” Orang itu menjawab,”tidak”. Selanjutnya Ia
bertanya lagi,”Apakah rezeki yang telah ditetapkan Allah bagimu bisa
berkurang?” Orang yang sedang galau itupun menjawab,”tidak”.Pertanyaan
Ibrahim yang ketiga,”Apakah umur yang telah ditetapkan dan ditentukan
Allah kepadamu bisa berkurang?” Jawabnya lagi,”tidak”. Kalau demikian
jawabanmu,lantas mengapa engkau larut dalam kegalauan dan kesedihan?
Kisah yang singkat ini memberikan kita nasehat berharga yang sangat
prinsip dalam kehidupan seorang muslim yang beriman ketika dihadapkan
dengan berbagai permasalahan yang membuat kegalauan,kesedihan,kecemasan
dan kekhawatiran.yaitu,rukun iman yang pertama beriman kepada Allah dan
juga rukun iman yang ke-enam beriman kepada qada dan qadar Allah. Kita
wajib meyakini bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu dalam
azal,yakni sebelum Allah menciptakan makhluk sudah ada ketentuan yang
akan terjadi pada makhluk,dan apa yang ditaqdirkan pasti terjadi sedang
yang tidak ditaqdirkan tidak akan terjadi.
“Tiada
suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum
kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah”.(QS.Al-Hadid 22).
Jangan pernah galau akan sesuatu yang telah hilang,jangan pula galau
akan hal-hal yang belum tercapai,dan jangan pula penyakit yang sedang
anda derita membuat anda galau,kerugian materi atau apapun yang terjadi
tidak akan membuat orang yang mengimani qadha’ dan qadhar galau dan
gelisah. Hal inilah kemudian yang akan menjadikan mukmin sejati tetap
optimis dalam menjalani hidup,kegalauan akan sirna,kecemasan akan
hilang,kesedihan akan terobati. Yang ada hanya berupaya dan
berikhtiar,sedangkan keputusan tetap mutlak ada pada Allah SWT.
Secara sederhana optimisme bisa kita pahami sebagai sikap mental yang
selalu penuh pengharapan dan keyakinan tentang masa depan yang lebih
baik. Bacalah sejarah dan lihat bagaimana optimisme Rasullulah SAW
ketika menghadapi penolakan masyarakat Tha’if, beliau dilempar, dihina
dan diusir, tapi subhanallah dengan sabar beliau malah mendoakan :
“Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamuun”. (Ya Allah, berilah kaumku
hidayah, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui). Selanjutnya
sejarah menceritakan sepuluh tahun kemudian, berbondong-bondong
masarakat Tha’if masuk Islam. Bahkan pada zaman khalifah Abu Bakar,
disaat beberapa golongan tidak mau membayar zakat, masyarakat Thai’if
lah yang bersegera menunaikan pembayaran zakat. Rasulullah
mengajarkan, sesulit dan seberat apapun kondisi yang kita hadapi, harus
tetap ada optimisme, karena optimisme bagi seorang muslim merupakan
manifestasi keyakinan akan keberadaan dan pertolongan Allah SWT.
Sikap yang selalu optimis akan membuat sesuatu menjadi jauh lebih baik,
optimisme seorang reformis terbesar Rasulullah SAW akan pertolongan
Allah telah membuat beliau mampu menghadapi banyak rintangan dalam
membumikan islam yang mulia. Hingga hari ini kita berada dalam
keislaman. Optimisme dalam keimanan para pejuang telah menenggelamkan
ketakutan mereka ketika menghadapi kaum kafir romawi yang berjumlah
kurang lebih 200.000 pada peperangan Mu’tah,sedangkan pasukan muslim
hanya 3000 personil. 1 pasukan muslim berbanding 67 pasukan romawi.
Sikap optimis membawa kemenangan, galau akan membuat anda pesimis, dan
galau yang lebih ekstrim lagi akan dekat dengan kekafiran,karena pada
galau tingkat tinggi,seseorang akan mempertanyakan dan meragukan
pertolongan Allah,bahkan bisa sampai menyalahkan Allah. Naudzu billahi min dzalik.
Optimisme seorang muslim bukanlah optimisme yang didirikan dalam
kehampaan, tapi optimisme tersebut didirikan di atas kekokohan iman
kepada Allah SWT. Dengan kata lain, sikap mental yang selalu optimis
dengan masa depan yang lebih baik itu adalah konsekwensi logis dari
keimanan dan keistiqamahan kita dalam mengamalkan ajaran syari’at.
“ Sesungguhnya orang-orang yang
berkata bahwa tuhan kami adalah Allah dan mereka istqamah, maka malaikat
akan turun kepada mereka (dan berkata), “Janganlah kamu merasa takut
dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu (memperoleh)
sorga yang telah dijanjikan kepadamu”. (QS.Fusshilat 30).
Apakah masalah anda sebanding dengan permasalahan yang pernah dihadapi
oleh Sumayyah binti khayyat? Beliau tidak galau,mengeluh dan putus asa
menghadapi permasalahan yang jauh lebih sulit dari apa yang sedang anda
hadapi, beliau telah dihadapkan dengan permasalahan yang mempertaruhkan
nyawa untuk aqidah islamnya.Sumayyah binti Khayyat seorang muslimah
yang tercatat sebagai orang ketujuh masuk islam telah menunjukkan
keoptimisannya dengan iman,Bani makhzum menyeretnya ke padang pasir,
mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir
yang sangat panas, kemudian meletakkan diatas dadanya sebongkah batu
yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan
melainkan ucapan Ahad….Ahad…., beliau ulang-ulang kata tersebut
sebagaimana yang diucapkan juga oleh Yasir, ‘Ammar dan
Bilal.
Jika anda dizhalimi belum seperti yang dirasakan Sumayyah binti Khayyat,
sungguh anda sangat lemah jika anda harus galau dan pesimis. Jika anda
diuji dengan penyakit yang tidak separah penyakit yang diderita nabi
Ayub as,tidak pantas anda mengeluh dan pesimis terhadap usaha dan do’a-
do’a anda kepada Allah. Jika anda dihimpit hutang yang sangat banyak
untuk keperluan keluarga dan menafkahi mereka,yakinlah bahwa pasti
selalu ada solusi bagi orang- orang seperti anda yang selalu optimis di
jalanNya, optimislah dengan rizqi Allah yang luas.
Optimisme dengan iman telah membuat orang-orang yang secara
pandangan manusia memiliki ekonomi yang lemah,terus berdo’a, bekerja dan
menabung untuk berangkat menunaikan ibadah haji ke baitullah dan dengan
izin Allah mereka mencapainya.
Optimisme juga telah membuat seorang yang tidak punya kedua kaki tetap
hadir ke mesjid untuk melaksanakan shalat tanpa galau dan mengeluhkan
kekurangannya. Optimisme dan keyakinan juga membuat orang yang sakit
bisa merasa lebih baik dan bahkan bisa sembuh. Orang yang mengalami
kegagalan dan jatuh dalam usaha dan bisnis akan sangat sulit untuk
bangkit bahkan tidak mungkin akan bangkit tanpa rasa optimis akan
pertolongan Allah yang segera datang. Orang yang dihimpit oleh kesulitan
hidup akan semakin terhimpit dengan keluhan- keluhan yang tidak
menghasilkan apa- apa dan semakin larut dalam penderitaan jika dia tidak
optimis dengan rahmat Allah yang begitu besar dan pertolonganNya yang
begitu dekat.
Mulai sekarang buang kegalauan, hilangkan kecemasan, optimislah dengan
iman. Karena rasa optimis akan memunculkan impian, impian akan
menghadirkan tindakan dan tindakan adalah ikhtiar yang insya Allah
dengan izinNya akan menjadikan do’a kita diijabah oleh Allah dengan
jalan keluar yang segera akan datang.
wallahu a'lam
Semoga bermanfaat, Kepada Allah saya mohon ampun.
Silakan lihat artikel- artikel islami selanjutnya.
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barokatuh...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar